Bali Beans White Party Vol 3 Siap Manjakan Pecinta Kopi
CEO Bali Beans Coffee, Ayu Sudana (tengah), bersama tim menunjukkan produk kopi signature Bali Beans dalam persiapan acara Bali Beans White Party Vol. 3 yang akan digelar Minggu (07/12/2025) di Umalas, Badung.
MANGUPURA (Dewannew.com) – Bali akan kembali menjadi titik pertemuan para pecinta kopi melalui gelaran Bali Beans White Party Vol. 3, yang akan digelar pada Minggu (07/12/2025) di Bali Beans Coffee, Jl. Umalas 1 No. 67, Badung. Acara ini menjadi ruang interaksi antara para penikmat kopi, roaster, barista, dan komunitas kreatif yang ingin mengeksplorasi rasa, teknik, dan proses kopi Bali dalam nuansa perayaan. Para pengunjung dapat menikmati berbagai varian kopi dari Bali Beans, mulai dari single-origin hingga proses honey, natural, dan washed. Hingga kini, White Party tetap menjadi satu-satunya pesta kopi di Bali dan hanya diselenggarakan oleh Bali Beans Coffee.
Rencana penyelenggaraan ini disampaikan langsung oleh pemilik sekaligus CEO Bali Beans Coffee, Ayu Sudana, dalam press conference di Bali Beans Coffee & Co, Kamis (04/12/2025). Ia menyebut acara ini bukan sekadar pesta, tetapi bentuk selebrasi budaya kopi Bali yang semakin dikenal di tingkat nasional hingga global.
Di balik gebyar event, Bali Beans Coffee & Co tetap setia pada akar sejarahnya. Berdiri di dataran tinggi Plaga, Kintamani, brand ini lahir pada 1985 dari tangan pasangan petani lokal, Nyoman Sudana dan Wayan Sari. Dengan memegang filosofi Tri Hita Karana, Bali Beans tumbuh melalui sistem “From Crop to Cup”, memastikan seluruh proses produksi dikendalikan dari kebun hingga cangkir untuk menjaga integritas rasa dan harga yang adil bagi petani.
Kini, generasi kedua Ayu Sudana membawa sentuhan modern dalam pengembangan brand melalui edukasi kopi, hospitality, dan keterlibatan komunitas. Program tur kebun, sesi cupping, storytelling, hingga workshop roasting menjadikan Bali Beans bukan hanya produsen kopi, tetapi ruang edukasi dan destinasi wisata kopi.
Salah satu nilai yang membedakan Bali Beans adalah keterlibatan 22 petani perempuandalam rantai produksi. Mereka mengelola rata-rata dua hektare lahan dan menghasilkan 500 kilogram green beans per hektare per tahun. Hasil panen ini mendukung suplai internal sebesar 30 kilogram per bulan dan kebutuhan ekspor hingga satu ton per bulan. Metode produksi tetap mengikuti sistem Subak Abian, tata kelola tradisional yang menjunjung gotong royong, keadilan, dan keberlanjutan ekologis.
Ayu juga menegaskan komitmen Bali Beans pada pertanian organik. Ia menyebut sistem organik bukan sekadar tren, tetapi fondasi masa depan kopi premium. Selain meningkatkan kualitas rasa dan nilai jual, metode organik membantu menjaga kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, serta mengurangi ketergantungan petani pada pupuk dan pestisida kimia.
Sejalan dengan perkembangan pasar digital, Ayu mendorong petani dan pelaku kopi Bali untuk berani memanfaatkan media sosial dan teknologi pemasaran digital. “Petani harus inovatif. Dengan teknologi, kita tidak hanya menjual kopi, kita menjual cerita, nilai, dan budaya,” tegasnya dalam konferensi pers.
Bali Beans Coffee & Co kini bukan sekadar nama di industri kopi Indonesia; ini adalah simbol perubahan. Perpaduan tradisi, budaya, pemberdayaan perempuan, dan keberlanjutan menjadikan Bali Beans sebagai wajah baru kopi Bali di panggung dunia. Dan melalui Bali Beans White Party Vol. 3, pesan itu kembali digaungkan: kopi bukan sekadar minuman kopi adalah pengalaman, identitas, dan masa depan. (jk)
