09/01/2026

BPR Kanti Buka Peta Pertarungan Industri Keuangan 2026

 BPR Kanti Buka Peta Pertarungan Industri Keuangan 2026

Direktur Utama BPR Kanti, Made Arya Amitaba, memberikan sambutan pada Seminar Nasional Indonesia Economic Outlook 2026 di Gianyar, Senin (8/12).

GIANYAR (Dewannews.com) – Menjelang pergantian tahun, BPR Kanti memasuki usia ke-36 dengan langkah yang jauh dari seremoni. Melalui Seminar Nasional Indonesia Economic Outlook 2026 bertema “Penguatan Peran Lembaga Keuangan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, Senin (8/12), BPR Kanti kembali menunjukkan posisinya sebagai BPR yang aktif membuka ruang dialog ekonomi—sebuah peran yang jarang dimainkan lembaga sejenis.

Seminar ini menghadirkan para tokoh lintas otoritas dan industri: Dirut PT LRT Jakarta sekaligus mantan Kepala OJK Jabotabek–Banten Roberto Akyuwen, mantan Kepala BI Bali–Nusra dan praktisi BPR Viraguna Bagoes Oka, CEO LSP Microfinance Indonesia Bakri, serta Direktur Utama Jaringan BPR Nusantara Franky Suhendra. Diskusi dipandu Regional Chief Economist BNI Wilayah 8 yang juga Dekan FEB Undiknas, Prof. IB Raka Suardana.

Baca Juga:  PLN Beri Diskon Listrik 50% untuk Pelanggan Rumah Tangga Januari-Februari 2025

Direktur Utama BPR Kanti, Made Arya Amitaba, menegaskan sektor keuangan memegang peran fundamental bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia menyayangkan belum masuknya industri keuangan dalam lima sektor prioritas pemerintah.
“Lembaga keuangan berada di urutan keenam sektor prioritas. Padahal kontribusinya jelas menopang roda ekonomi,” ujarnya.

Meski demikian, Amitaba menegaskan pihaknya memilih tetap optimistis. Seminar ini disebut sebagai ruang membaca sinyal ekonomi nasional dan regional sekaligus memperkuat kepercayaan diri pelaku industri.
“Kita tetap optimistis bahwa BPR adalah alat penggerak perekonomian,” katanya.

Baca Juga:  OJK Luncurkan Program Asuransi untuk Perkuat Ekosistem Pinjaman Daring

Amitaba juga menyoroti dinamika yang kian kompleks. Jika saat pendiriannya BPR hadir sebagai alternatif agar masyarakat tidak terjerat rentenir, kini tantangan justru datang dari agresivitas pinjaman online (pinjol).
“Pinjol menjadi tantangan baru dan tidak bisa diabaikan,” tegasnya.

Ia mengingatkan kembali pahitnya krisis 1997/1998 ketika BPR tidak memiliki lembaga penyangga. Karena itu, keberlanjutan program Apex Bank dinilai penting, dengan Jaringan BPR Nusantara menjadi motor penguatan industri ke depan.

Baca Juga:  Kinerja Industri Jasa Keuangan Prov. Bali Pada September 2024 Catatkan Kinerja Baik dan Terjaga Stabil

Roberto Akyuwen dalam paparannya menyebut masa depan BPR tidak hanya bergantung pada regulasi. Menurutnya, kepercayaan publik, tata kelola, transformasi digital, serta perluasan jejaring akan menjadi penentu daya saing.
“Networking perlu diperbanyak. Kolaborasi adalah syarat penting agar BPR tetap relevan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas inflasi sebagai bagian dari dinamika pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga:  Peringati Kemerdekaan RI Ke-79, Momentum OJK Dukung Perekonomian Nasional

Viraguna Bagoes Oka menyoroti perlunya keberpihakan kebijakan terhadap Bali yang masih dalam proses pemulihan pascapandemi. Ia mendorong Otoritas Jasa Keuangan memperpanjang relaksasi capital charge perbankan hingga 2028.
“Relaksasi ini menjadi ruang bergerak yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Melalui seminar ini, BPR Kanti tidak sekadar merayakan ulang tahun, tetapi juga membaca arah perubahan industri keuangan dari sudut pandang daerah. Dari Gianyar, BPR Kanti mengirimkan sinyal bahwa lembaga keuangan mikro tetap memiliki peran strategis dalam percaturan ekonomi nasional—sebuah tarung panjang yang menuntut kolaborasi, keberanian, dan inovasi berkelanjutan. (jk)