FK Unwar Latih Nakes Puskesmas Pembantu Gunakan Simulasi VR
Tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa bersama tenaga kesehatan Puskesmas Pembantu Batubulan II, Kecamatan Sukawati, Gianyar, usai pelaksanaan pelatihan resusitasi berbasis Virtual Reality (VR).
GIANYAR (Dewannews.com) – Pelayanan kegawatdaruratan di tingkat layanan primer masih menjadi tantangan, terutama di puskesmas pembantu yang sering kali berada jauh dari fasilitas kesehatan rujukan. Dalam kondisi seperti henti jantung atau henti napas, kemampuan tenaga kesehatan untuk bertindak cepat dan tepat menjadi faktor penentu keselamatan pasien.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa pelatihan resusitasi menggunakan teknologi Virtual Reality (VR) bagi tenaga kesehatan di puskesmas pembantu Batubulan II di Kecamatan Sukawati, Gianyar. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, keterampilan, serta kepercayaan diri tenaga kesehatan dalam menangani situasi kegawatdaruratan.
Dokter Adi Pratama Putra P., MHPE selaku ketua tim pengabdian menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi VR dipilih untuk menjembatani keterbatasan pelatihan konvensional. “Melalui Virtual Reality, peserta dapat berlatih resusitasi dalam skenario yang sangat mendekati kondisi nyata, namun tetap aman dan dapat diulang berkali-kali,” ujarnya.
Pelatihan diawali dengan pemaparan singkat mengenai prinsip dasar resusitasi jantung paru, alur penanganan kegawatdaruratan, serta pentingnya pengambilan keputusan yang cepat dan sistematis. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi praktik menggunakan perangkat VR yang menyajikan simulasi kegawatdaruratan secara interaktif dan imersif.
Dokter Gde Candra Yogiswara, Sp.An-TI sebagai instruktur pelatihan menyampaikan bahwa pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi peserta. “Peserta tidak hanya mendengar atau melihat, tetapi benar-benar ‘mengalami’ situasi kegawatdaruratan. Ini sangat membantu dalam membangun kesiapan mental dan keterampilan klinis,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah satu tenaga kesehatan puskesmas pembantu mengungkapkan bahwa metode pelatihan ini sangat bermanfaat. “Selama ini kami jarang mendapatkan pelatihan resusitasi yang realistis. Dengan VR, kami jadi lebih paham urutan tindakan dan lebih percaya diri jika harus menangani pasien gawat darurat,” tuturnya.
Selain sesi praktik, kegiatan juga dilengkapi dengan diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi ini, peserta menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan, seperti keterbatasan sarana, jumlah tenaga kesehatan, serta akses rujukan yang tidak selalu cepat. Diskusi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus penguatan peran tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan di tingkat primer. Pemanfaatan teknologi Virtual Realitydiharapkan dapat menjadi inovasi pembelajaran yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan tenaga kesehatan di lapangan.
Ke depan, pelatihan resusitasi berbasis teknologi diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak puskesmas pembantu, sehingga semakin banyak tenaga kesehatan yang siap dan kompeten dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan demi keselamatan masyarakat. (r)
