06/03/2026

Mahasiswa Undhira Diajak Memahami Gangguan Mental Lewat Film The Sacrifice

 Mahasiswa Undhira Diajak Memahami Gangguan Mental Lewat Film The Sacrifice

Indra Kusuma saat menghadiri pemutaran film The Sacrifice di Aula Gedung E Universitas Dhyana Pura, Rabu (4/3/2026).

MANGUPURA (Dewannews.com) – Pemutaran film etnografi berjudul The Sacrifice digelar di Aula Gedung E Universitas Dhyana Pura, Rabu (4/3/2026), hasil kolaborasi Lembaga Tujuh Karakter, Program Studi Psikologi, dan Elemental Production. Film ini mengangkat kisah nyata perjalanan hidup Ketut Sudirta, seorang pria Bali yang sejak remaja bergulat dengan gangguan mental berat, kekerasan, hingga pergulatan panjang mencari makna hidup di tengah tekanan sosial dan spiritual. Kegiatan tersebut diikuti ratusan mahasiswa serta akademisi yang antusias mengikuti diskusi pascapemutaran.

Sutradara sekaligus narator film, Indra Kusuma, menjelaskan bahwa The Sacrifice merupakan proyek etnografi longitudinal yang didokumentasikan selama kurang lebih 15 tahun. “Film ini bukan sekadar dokumentasi tentang gangguan mental, tetapi tentang perjalanan manusia menghadapi penderitaan, tentang keluarga yang tidak pernah berhenti berusaha memahami dan mendampingi,” ujar Indra saat sesi diskusi.

Baca Juga:  Cegah Klaim Budaya, Badung Dorong 4 Tradisi Masuk WBTBI 2025

Ia menuturkan, Ketut Sudirta mengalami berbagai fase sulit dalam hidupnya, mulai dari berkeliaran di jalanan, berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, hingga terlibat dalam tindakan kekerasan yang berdampak pada dirinya dan keluarga. Namun, menurut Indra, sosok Ketut tidak bisa dilihat secara hitam-putih. “Di balik gejolak itu, ia tetap pribadi yang hangat, setia pada teman, dan memiliki keinginan kuat untuk sembuh serta memperbaiki kesalahan,” katanya.

Lebih lanjut, Indra menekankan bahwa film ini memperlihatkan bagaimana keluarga Ketut memadukan pendekatan medis modern dengan praktik penyembuhan tradisional Bali. “Keluarganya memaknai penderitaan bukan hanya sebagai penyakit klinis, tetapi juga sebagai bagian dari ketidakseimbangan spiritual dan relasi antargenerasi. Ada upaya kolektif untuk memulihkan harmoni, bukan hanya individu, tetapi seluruh keluarga,” jelasnya.

Baca Juga:  Mini Soccer Antar OPD Jadi Ajang Silaturahmi ASN Badung Jelang HUT Mangupura

Melalui berbagai ritual penyucian, doa, komunikasi trans, hingga pembangunan ulang rumah dan pekarangan, proses penyembuhan ditampilkan sebagai perjalanan komunal. Indra menyebut pendekatan tersebut sebagai refleksi kuat nilai budaya Bali. “Saya ingin penonton melihat bahwa kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan budaya, keyakinan, dan struktur sosial yang membentuk cara kita memahami penderitaan,” ujarnya.

Menurut pihak kampus, pemutaran film ini menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan kearifan lokal dalam memahami isu kesehatan mental. Indra pun berharap karya ini dapat menantang stigma yang masih melekat di masyarakat. “Gangguan mental bukan aib. Ia adalah bagian dari pengalaman manusia yang membutuhkan empati, dukungan, dan kolaborasi lintas disiplin. Jika kita mau mendengar dengan hati, selalu ada peluang untuk pemulihan,” pungkasnya. (r)