01/03/2026

Napak Tetamian: Harmoni Sakral Tiga Keyakinan di Pesisir Tanjung Benoa

 Napak Tetamian: Harmoni Sakral Tiga Keyakinan di Pesisir Tanjung Benoa

Penari Janger Tradisi Remaja dari Sanggar Seni Wredaya Muni tampil memukau dalam pementasan “Napak Tetamian” di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Denpasar, Senin (14/7/2025) malam. Garapan ini merefleksikan harmoni tiga keyakinan di Tanjung Benoa melalui seni tari, musik, dan ekspresi budaya sakral.

DENPASAR (Dewannews.com) — Aroma dupa dan menyan menyeruak memenuhi Kalangan Ayodya, Taman Budaya Denpasar, Senin (14/7) malam. Dalam suasana magis yang penuh khidmat itu, Sanggar Seni Wredaya Muni, duta Kabupaten Badung, mempersembahkan garapan Janger Tradisi Remaja bertajuk Napak Tetamian. Pertunjukan ini bukan sekadar panggung seni biasa, melainkan ritual kebudayaan yang menyingkap warisan kerukunan tiga keyakinan di Tanjung Benoa: Islam Bugis, Khonghucu Tionghoa, dan Hindu Bali.

Sesaji tertata di sudut panggung, denting gamelan mengalun lirih, berpadu teriakan magis para penari yang ketedunan. Penonton larut dalam aura sakral yang sulit dicari padanannya. Napak Tetamian, yang berarti warisan peninggalan, menjadi ruang bagi anak muda Tanjung Benoa untuk menyampaikan pesan keberagaman dan persaudaraan di pesisir mereka yang plural.

Baca Juga:  Atlas Bali gelar Upacara Guru Piduka, Warga: "Tujuan Utamanya untuk Saling Memaafkan"

“Ini janger terbaik yang pernah saya saksikan. Hampir tiga jam tanpa bosan, mereka begitu atraktif,” puji budayawan Prof. Dr. I Made Bandem, MA., yang hadir di antara penonton. Dengan dua jempol teracung, ia menambahkan, “Anak-anak ini juga berhasil merekonstruksi gending jenjangeran kuno dengan baik.”

Sementara Jro Bendesa Adat Tanjung Benoa, Made Wijaya, SE., yang juga anggota DPRD Badung, menegaskan komitmen desa adat dalam menjaga tradisi. “Komitmen kita di desa adat adalah menjaga adat dan budaya, termasuk mendukung kegiatan anak muda atau sekaa teruna dalam pelestarian seni,” ujarnya usai pertunjukan.

Baca Juga:  Meriahkan PKB XLVII 2025, PLN Tawarkan Promo Listrik dan Internet

Tak hanya menampilkan janger dengan sentuhan rekonstruksi musik klasik, pentas ini juga memperkenalkan Tari Rudat, warisan budaya komunitas Bugis Islam di Tanjung Benoa. Tarian yang dinamis dan bersemangat ini menggambarkan kesiapsiagaan, persatuan, serta keteguhan iman. Biasanya, Tari Rudat dipertunjukkan dalam acara keagamaan, penyambutan tamu, hingga upacara adat. Di Tanjung Benoa, seni Rudat menjadi pengingat eksistensi dan kontribusi budaya Bugis dalam merawat kerukunan di pesisir.

Sejarah mencatat, komunitas Bugis sudah lama bermukim di pesisir Bali selatan sebagai pelaut ulung dan penjaga pantai. Bersisian dengan mereka, komunitas Tionghoa mulai berdatangan sejak abad ke-17 melalui jalur perdagangan laut. Para perantau dari negeri Tiongkok yang mayoritas menganut Khonghucu dan Buddha itu membawa budaya dan kepercayaan mereka, sekaligus membangun harmoni bersama penduduk setempat. Salah satu jejak sejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Kelenteng Caow Eng Bio di Tanjung Benoa, menjadi saksi bisu perjalanan ratusan tahun kerukunan tiga keyakinan besar di pesisir ini.

Baca Juga:  Taksu Mandala Ungasan Memukau di PKB ke-47, Usung Pesan Keseimbangan Lewat Seni Klasik dan Kreasi Baru

“Di Tanjung Benoa, kerukunan tiga keyakinan sudah jadi tapakan budaya yang nyata. Generasi muda ingin mewarisi semangat itu, bukan hanya lewat cerita, tapi lewat karya seni yang hidup di panggung,” jelas I Ketut Aditya Putra, S.Sn., M.Sn., koordinator tim garapan Napak Tetamian.

Pertunjukan semakin lengkap dengan hadirnya kisah Rangda, tapakan sakral desa yang biasanya muncul saat piodalan. Malam itu, tapakan Rangda ditarikan diiringi alunan janger, diperkuat dukungan penuh umat dari ketiga keyakinan yang ada—sebagai simbol semangat Jagat Kerthi dan Loka Hita Samudaya, filosofi kesejahteraan semesta berbasis harmoni laut.

Baca Juga:  Pelatihan POK 2026, COMETS Unwar Siapkan Kader Ormawa Berkualitas

Di bawah arahan para pembina seni seperti I Nyoman Swandana Putra (vokal & dialog) dan Putu Adiyanti Parmita Putri (tari), serta dukungan penuh Prajuru Adat dan krama Desa Adat Tanjung Benoa, garapan ini tampil solid, memesona, dan sarat makna.

Puncak pertunjukan menjadi momen yang paling menggetarkan batin. Saat Ratu Gede, tapakan Rangda sakral desa, melakukan napak pertiwi, gamelan mengalun lirih menembus kesunyian. Beberapa penari tiba-tiba ketedunan, tubuh mereka bergetar hebat sambil terus menari. Beberapa penonton pun turut kehilangan kendali, seakan roh leluhur yang dipanggil telah menyatu dengan manusia. Kalangan Ayodya sejenak terdiam dalam ketegangan, hanya suara gamelan yang terus membisik, menyaksikan tarian roh dan manusia berpadu.

Baca Juga:  Konsisten Sejak 1956, Sekaa Taruna Jaya Badung Tampil di PKB ke-47

Napak Tetamian tidak sekadar menjadi tontonan. Ia menjadi peristiwa sakral yang menghidupkan kembali akar budaya, membuktikan bahwa seni tradisi adalah doa, identitas, dan kebanggaan. Warisan leluhur itu kini menyala di tangan generasi muda, menyuarakan pesan bahwa harmoni tak lekang oleh zaman, tetap indah untuk diwariskan dari generasi ke generasi. (jk)