13/02/2026

OJK: Perbankan Tangguh Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional

 OJK: Perbankan Tangguh Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, saat menyampaikan keterangan terkait kondisi perbankan nasional. OJK menegaskan sektor perbankan Indonesia tetap tangguh di tengah dinamika global.

JAKARTA (Dewannews.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan sektor perbankan Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika global. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa kinerja industri perbankan masih stabil meskipun terdapat perlambatan pertumbuhan kredit sejalan dengan siklus ekonomi. “Resiliensi perbankan Indonesia terbukti solid, kualitas aset tetap terjaga, dan permodalan berada pada level yang sangat memadai,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan dalam siaran pers OJK yang diterima redaksi Dewannews.com, Senin (25/08/2025).

Pada Juli 2025, kredit perbankan tumbuh 7,03 persen yoy dengan kualitas aset yang sehat. Non Performing Loan (NPL) berada di level 2,28 persen dan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 9,68 persen. Kredit investasi juga meningkat 12,42 persen yoy, terutama disokong sektor berbasis ekspor seperti pertambangan dan perkebunan, serta transportasi, industri, dan jasa sosial. Kondisi ini selaras dengan sektor penopang pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2025 yang tumbuh 5,12 persen yoy.

Baca Juga:  OJK Bali Apresiasi Implementasi Program Kejar Terbaik Provinsi Bali Tahun 2024

Likuiditas perbankan juga tercatat kuat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7 persen yoy, sementara rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing mencapai 119,43 persen dan 27,08 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan. Di sisi lain, permodalan perbankan masih solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,81 persen pada Juni 2025. “Kondisi ini menunjukkan kesiapan bank dalam menyerap risiko di tengah ketidakpastian global,” kata Dian.

Seiring dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5 persen per 20 Agustus 2025, suku bunga kredit perbankan juga menurun. Pada Juli 2025, rata-rata suku bunga kredit rupiah tercatat turun 7 basis poin dibanding tahun sebelumnya, terutama pada kredit produktif. OJK menilai tren penurunan masih berlanjut sepanjang 2025, meski efektivitasnya sangat dipengaruhi struktur biaya dana (Cost of Fund) tiap bank.

Baca Juga:  OJK Bali Bersama BSI dan Baznas Perkuat Inklusi Keuangan Syariah di Bali

Hasil revisi Rencana Bisnis Bank Umum (RBB) semester I-2025 menunjukkan perbankan lebih konservatif menghadapi dinamika makroekonomi. Namun, survei orientasi bisnis OJK (SBPO) mengungkapkan bank tetap optimis, didorong proyeksi pertumbuhan DPK dan penyaluran kredit. Optimisme ini juga ditopang penurunan biaya kredit akibat BI Rate yang lebih rendah serta meningkatnya dana murah dari nasabah korporasi maupun pemerintah daerah.

OJK menegaskan akan terus memantau stabilitas perbankan dengan berkoordinasi bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dengan strategi pendanaan yang adaptif dan prinsip kehati-hatian, perbankan diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga menjadi motor penggerak pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami ingin memastikan sektor perbankan tetap berperan besar dalam mendukung ekonomi Indonesia yang berkesinambungan,” pungkas Dian. (r)