Parade Wayang Kulit Dalang Wanita Sulangai Tampil Memukau di Pesta Kesenian Bali
Dalang muda Ni Luh Gede Anik Darmayanti (tengah) bersama tim Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara dan jajaran pendukung usai tampil dalam Parade Wayang Kulit Dalang Wanita Sulangai di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 di Taman Budaya Denpasar, Selasa (15/7) malam.
DENPASAR (Dewannews.com) — Parade Wayang Kulit Dalang Wanita Sulangai dari Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, tampil memukau di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Pementasan yang digelar di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Denpasar, Selasa (15/7) malam itu, menghadirkan kisah klasik Pralaya Senopati Salya yang dibawakan oleh Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara.
Menariknya, pementasan ini tetap mempertahankan pakem klasik khas Sulangai, yang jarang ditampilkan di era modern. Dalang muda, Ni Luh Gede Anik Darmayanti, tampil percaya diri membawakan kisah yang diadaptasi dari epos Mahabharata tersebut.
“Kisah ini menceritakan pergolakan batin Prabu Salya, Raja Mandaraka, yang ditunjuk menjadi Senopati utama pasukan Korawa dalam perang Bharatayudha. Padahal, ia harus berhadapan langsung dengan keponakannya sendiri, Nakula dan Sahadewa, yang membela pihak Pandawa,” ujar Anik saat ditemui sebelum pementasan.
Prabu Salya dikenal sebagai tokoh sakti mandraguna. Dalam cerita, setiap tetes darahnya bisa menjelma menjadi raksasa, sehingga pihak Korawa merasa yakin akan memenangkan pertempuran.
Namun, strategi Pandawa dibantu oleh Kresna yang menjadi penentu arah perang. Kresna mengungkapkan bahwa hanya manusia berdarah putih yang bisa menaklukkan Prabu Salya. Ada tiga sosok yang memiliki darah putih: Subali, Resi Bagaspati (guru Prabu Salya), dan Prabu Darmawangsa.
“Dalam duel sengit, akhirnya Prabu Darmawangsa yang mewakili Pandawa berhasil mengalahkan Prabu Salya,” jelas Anik. “Pesan moral dari kisah ini adalah pentingnya selalu berbuat baik, baik kepada saudara maupun orang lain.”
Bagi Anik, penampilan di PKB tahun ini menjadi pengalaman perdana sebagai dalang di ajang bergengsi tersebut. Sebelumnya, ia hanya tampil di beberapa pertunjukan kecil di kampung halaman.
“Latihan untuk pementasan ini kami lakukan selama kurang lebih empat bulan. Saya sangat bersyukur bisa tampil di PKB untuk pertama kalinya,” ucap dalang wanita berusia 20 tahun itu.
Pementasan ini menjadi bukti eksistensi perempuan muda dalam dunia pedalangan yang selama ini didominasi kaum pria, sekaligus membawa angin segar bagi pelestarian seni tradisi di Bali. (r)
