Perang Dagang Memanas, Tapi Ekonomi Indonesia Justru Naik Level!
Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2025 yang digelar pada Kamis, 24 April 2025 pukul 09.30 WIB. Hadir dalam konferensi pers ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa. KSSK menegaskan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meski ketidakpastian global meningkat akibat perang dagang dan dinamika ekonomi internasional.
JAKARTA (Dewannews.com) – Stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap solid memasuki triwulan I-2025 meskipun ketidakpastian global kian meningkat akibat dinamika kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dan eskalasi perang dagang global. Dalam rapat berkala yang digelar Kamis (17/4), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan komitmennya untuk memperkuat koordinasi dan sinergi kebijakan guna menghadapi potensi risiko global.
KSSK yang beranggotakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, sepakat untuk terus siaga terhadap gejolak ekonomi dunia serta meningkatkan langkah-langkah antisipatif demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Tekanan Global Meningkat, Indonesia Tetap Tangguh
Kebijakan tarif impor yang diberlakukan Pemerintah AS telah memicu perang tarif, memicu ketidakpastian pasar keuangan, serta menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang. Dana global kini lebih condong mengalir ke aset-aset safe haven seperti emas dan instrumen di Eropa serta Jepang.
Akibat eskalasi ini, IMF dalam laporan terbarunya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,8% pada 2025. Meski demikian, Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi direvisi hanya sedikit menjadi 4,7%, jauh lebih moderat dibandingkan negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Meksiko.
Langkah Mitigasi: Negosiasi hingga Deregulasi
Menghadapi situasi global ini, Pemerintah Indonesia mengambil langkah cepat melalui jalur diplomatik, termasuk negosiasi dengan AS serta deregulasi hambatan non-tarif. Kebijakan fiskal dan moneter yang selaras, ditambah dengan permintaan domestik yang kuat, menjadi andalan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap pada jalurnya.
Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Utama
Pada triwulan I-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga—didukung oleh belanja pemerintah seperti THR, bantuan sosial, dan lonjakan musiman selama Idulfitri. Investasi pun menunjukkan tren positif, terutama pada sektor non-bangunan seperti alat berat, serta properti swasta dan Proyek Strategis Nasional yang terus bergulir.
Ekspor juga mengalami peningkatan, terutama pada produk unggulan seperti CPO, besi dan baja, serta mesin elektronik. Pemerintah secara aktif terus memperluas pasar ekspor ke negara-negara ASEAN+3, BRICS, dan Eropa.
Pertumbuhan 2025 Tetap Optimis
Dengan berbagai langkah mitigasi yang sudah dan terus dilakukan, Indonesia diperkirakan mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% di tahun 2025. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa meski badai global terus berhembus, pondasi ekonomi nasional masih kokoh dan adaptif.
