08/01/2026

Sanggar Candrawangsa Suguhkan Gamelan Inovatif Bertema Nyepi di Pesta Kesenian Bali

 Sanggar Candrawangsa Suguhkan Gamelan Inovatif Bertema Nyepi di Pesta Kesenian Bali

Para penari dari Sanggar Seni Candrawangsa tampil memikat dengan kostum tradisional khas Bali, membawakan tarian yang menjadi bagian dari garapan inovatif bertema Tapa Prakerti di Pesta Kesenian Bali 2025.

DENPASAR (Dewannews.com) — Sanggar Seni Candrawangsa dari Banjar Dalem, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung tampil memukau di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025. Dalam penampilan yang berlangsung pada Jumat (4/7) di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Centre Denpasar, para seniman muda membawakan pertunjukan gamelan inovatif bertema spiritualitas Hari Raya Nyepi.

Membawakan empat karya, tiga di antaranya berupa tabuh inovatif dan satu tari, Sanggar Candrawangsa mengusung konsep Tapa Prakerti sebagai benang merah dari keseluruhan garapan. “Konsep ini lahir dari prosesi Nyepi dan Catur Brata Penyepian, yang bermakna pengendalian diri dan kembali ke sifat alami atau murni,” jelas Koordinator Sanggar, I Gede Ananta Diparesta.

Baca Juga:  Badung Sabet Opini WTP dari BPK: Bukti Transparansi Pengelolaan

Ananta menjelaskan, ketiga garapan tabuh inovatif tersebut merupakan interpretasi musikal dari filosofi Tri Hita Karana, yang mencerminkan hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Garapan pertama berjudul Swara Pawitri, terinspirasi dari prosesi Melasti menjelang Nyepi. Karya ini menggabungkan unsur musikal dan nuansa spiritual, menggambarkan suara persembahan suci sebagai bentuk komunikasi manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Para penabuh Sanggar Seni Candrawangsa memainkan gamelan inovatif di Panggung Kalangan Angsoka, Denpasar.

Persembahan kedua bertajuk Suda Prawerti, menggambarkan proses penyucian alam (palemahan) melalui tabuh dinamis dan penuh emosi. Terinspirasi dari upacara Tawur Kesanga, garapan ini menyuarakan kesadaran ekologis dan perjalanan spiritual manusia menuju harmoni dengan bumi.

Sementara itu, garapan ketiga, Tepa Slira, mengangkat suasana malam pengerupukan dan euforia pengarakan ogoh-ogoh. Karya ini merefleksikan ujian empati dan tenggang rasa manusia di tengah hiruk pikuk perayaan, sekaligus menjadi pengingat pentingnya introspeksi menjelang Nyepi.

Baca Juga:  Bupati Adi Arnawa Resmi Buka PKB Badung Ke-47: Pelestarian Seni Bali Jadi Fokus

Melalui eksplorasi musikal yang mendalam dan sarat makna, Sanggar Candrawangsa tak hanya menampilkan kreativitas seni karawitan, tetapi juga menyuarakan pesan spiritual dan ekologis yang relevan dengan kehidupan modern.

Penampilan ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi Bali tetap hidup dan berkembang lewat inovasi generasi muda, yang mampu menggabungkan warisan budaya dengan gagasan kontemporer. (r)