OJK Dorong Transformasi Keuangan Digital yang Aman dan Inklusif
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara memaparkan komitmen Indonesia dalam mendorong inovasi dan penguatan regulasi keuangan digital pada forum OECD Asia Roundtable on Digital Finance 2025 di Bali, didampingi perwakilan OECD dan pejabat OJK.
DENPASAR (Dewannews.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola dan inovasi keuangan digital yang bertanggung jawab, khususnya melalui pengembangan kerangka tokenisasi aset yang adaptif dan inklusif. Penegasan ini disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, pada hari kedua OECD Asia Roundtable on Digital Finance 2025 yang digelar di Bali, Selasa (2/12).
Dalam forum yang diselenggarakan OJK berkolaborasi dengan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) serta didukung Financial Services Commission (FSC) Korea tersebut, Mirza menekankan bahwa kemitraan strategis antara OJK dan OECD terus diperkuat melalui dialog kebijakan, kajian hingga program peningkatan kapasitas. Kolaborasi tahun ini diperluas dengan fokus pada sektor keuangan digital seperti kecerdasan artifisial (AI), tokenisasi, hingga aset digital.
“Perkembangan teknologi, termasuk AI dan tokenisasi, bukan lagi wacana masa depan. Ini adalah realitas yang sedang membentuk ulang arsitektur pasar keuangan global,” ujar Mirza.
Sejumlah data internasional menunjukkan pasar tokenisasi global diproyeksikan tumbuh dari 0,6 triliun dolar AS menjadi 18,9 triliun dolar AS pada 2033. Kawasan Asia Pasifik disebut menjadi pusat pertumbuhan dengan laju tahunan lebih dari 21 persen. Asia juga tercatat sebagai wilayah dengan tingkat adopsi keuangan digital tertinggi, mulai dari aset kripto, stablecoin, hingga decentralized finance (DeFi).
Di Indonesia, OJK telah menjalankan regulatory sandbox untuk model bisnis tokenisasi aset nyata, termasuk emas, properti, dan surat berharga negara. Beberapa model telah dinyatakan lulus uji dan menunjukkan minat besar dari pasar terhadap kepemilikan fraksional yang lebih terjangkau.
Kepala Eksekutif Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan dan praktik terbaik dalam pengembangan tokenisasi di tingkat regional dan global.
“Kita perlu terus mendorong inovasi yang bertanggung jawab yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan dengan pelindungan konsumen, integritas pasar, dan stabilitas sistem keuangan,” tegas Hasan.
Forum yang dihadiri lebih dari 40 perwakilan regulator, pelaku industri global, serta pakar keuangan digital dari berbagai negara ini resmi ditutup oleh Head of Financial Markets OECD, Fatos Koc, bersama Hasan Fawzi.
OJK menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara dan lintas lembaga menjadi kunci membangun masa depan keuangan digital yang tangguh, aman, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika global yang terus berubah. (r)
