10/09/2026

Duta Badung Suguhkan Baradwara, Perjalanan Spiritual dalam Balaganjur PKB 2026

 Duta Badung Suguhkan Baradwara, Perjalanan Spiritual dalam Balaganjur PKB 2026

Duta Kabupaten Badung yang diwakili Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, menampilkan garapan Balaganjur Remaja bertajuk Baradwara pada Wimbakara Balaganjur Remaja PKB XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar, Kamis (18/6/2026).

DENPASAR (Dewannews.com) – Duta Kabupaten Badung kembali menunjukkan kualitasnya dalam ajang Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil sebagai peserta pertama di panggung terbuka Art Centre Denpasar, Kamis (18/6/2026) malam, Sekaa Gong Cakradhara Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, sukses membawakan garapan bertajuk Baradwara yang sarat nilai spiritual dan estetika.

Sebagai juara bertahan setelah meraih peringkat pertama pada PKB 2025, Duta Badung tahun ini mengangkat inspirasi dari ritual sakral Sanghyang Jaran yang hidup di Desa Adat Sedang. Garapan Baradwara atau “Gerbang Api” menggambarkan proses peleburan segala mala atau kekotoran jasmani dan rohani sebagai jalan menuju kesadaran yang lebih luhur.

Baca Juga:  Empat Garapan Sarat Filosofi, Angklung Kebyar Legian Raih Apresiasi Penonton

Koreografer Ida Bagus Yodhie Harischandra mengatakan proses persiapan karya tersebut telah dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. Para penabuh direkrut dari sejumlah sekaa yang ada di Desa Sedang dan dipersatukan menjadi satu barungan untuk menghadapi ajang bergengsi PKB 2026.

“Untuk persiapan kami kurang lebih sudah berproses selama enam bulan. Kalau dihitung efektif, sekitar empat bulan. Para penabuh kami rekrut dari beberapa sekaa yang ada di Desa Sedang, kemudian kami satukan menjadi satu barung yang siap tampil di ajang lomba tahun ini,” ujar Yodhie usai pementasan.

Baca Juga:  Bupati Adi Arnawa Suntik Semangat Duta PKB Badung Jelang Pentas PKB 2026

Menurut Yodhie, tantangan terbesar selama proses latihan adalah menyatukan jadwal para penabuh dan penari yang memiliki aktivitas masing-masing. Meski demikian, kebersamaan dan semangat berkarya mampu menjadi modal utama hingga tampil maksimal di hadapan penonton dan dewan juri. “Kendalanya tentu mengatur waktu karena para penabuh dan penari juga harus bekerja dan menjalankan aktivitas mereka sehari-hari. Namun dari situ kami belajar bersama untuk menyatukan waktu, rasa, dan tempat dalam proses berkarya tahun ini,” katanya.

Secara artistik, Baradwara berangkat dari pemaknaan api sebagai simbol pemurnian dalam ritus Sanghyang Jaran. Konsep tersebut diterjemahkan melalui komposisi musik berlandaskan tri angga, eksplorasi ritme yang kompleks, serta tekstur bunyi ceng-ceng yang berpadu dengan nuansa magis Gending Sanghyang Jaran khas Desa Adat Sedang. Karya yang dikonseptualisasikan I Gusti Made Darma Putra itu digarap oleh komposer I Made Adipramana Suparsa dan I Nyoman Arista Adiwijaya, sementara koreografi ditata Ida Bagus Yodhie Harischandra bersama Komang Jana Arta Suputra. (r)