AFAS Dorong Awak Kapal Tradisional Kantongi Sertifikasi Kompetensi
Direktur Perkapalan dan Perlautan Kementerian Perhubungan, Ir. Samsuddin, M.T., M.Mar.E. (tengah), berfoto bersama Kepala KSOP Kelas II Benoa Aprianus Hangki, Ketua Asosiasi Fast Boat Sanur (AFAS) Ida Bagus Wiadnyana Putra, serta jajaran panitia dan narasumber usai pembukaan Pelatihan Mualim Pelayaran Rakyat (MPR) dan Juru Motor Pelayaran Rakyat (JMPR) di Denpasar, Senin (3/8/2026).
DENPASAR (Dewannews.com) – Asosiasi Fast Boat Sanur (AFAS) menginisiasi penyelenggaraan Pelatihan Mualim Pelayaran Rakyat (MPR) dan Juru Motor Pelayaran Rakyat (JMPR) di Denpasar pada 3–7 Agustus 2026 sebagai upaya meningkatkan kompetensi sekaligus mendorong sertifikasi bagi awak kapal tradisional yang melayani pelayaran wisata di Bali. Pelatihan yang dibuka Direktur Perkapalan dan Perlautan Kementerian Perhubungan, Ir. Samsuddin, M.T., M.Mar.E., Senin (3/8), diikuti 91 peserta dari sektor kapal wisata dan pelayaran rakyat.
Ketua Asosiasi Fast Boat Sanur (AFAS), Ida Bagus Wiadnyana Putra, mengatakan pelatihan tersebut berangkat dari kebutuhan awak kapal lokal yang selama ini telah memiliki pengalaman panjang mengoperasikan kapal, namun belum seluruhnya memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui secara resmi. Menurutnya, selama ini pelatihan sejenis lebih banyak diselenggarakan di luar Bali sehingga menyulitkan para kru kapal untuk mengikutinya.
“Kami menginisiasi pelatihan ini bersama KSOP agar bisa dilaksanakan di Bali. Harapan kami kru-kru lokal, khususnya yang berasal dari Nusa Penida dan Nusa Lembongan, memiliki kompetensi yang diakui secara hukum. Secara pengalaman mereka sudah sangat layak mengoperasikan armada kami, hanya selama ini terkendala kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan,” ujar Wiadnyana.
Direktur Perkapalan dan Perlautan Kementerian Perhubungan, Ir. Samsuddin, mengatakan pemerintah menargetkan semakin banyak pelaut pelayaran rakyat memperoleh pelatihan dan sertifikasi melalui skema MPR dan JMPR. “Kami berharap seluruh pelaut pelayaran rakyat bisa mendapatkan pelatihan ini sekaligus tersertifikasi. Dengan demikian mereka tidak hanya memiliki pengalaman, tetapi juga kompetensi yang diakui sesuai ketentuan sehingga mampu meningkatkan keselamatan dan profesionalisme dalam memberikan layanan kepada masyarakat maupun wisatawan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala KSOP Kelas II Benoa, Aprianus Hangki, menjelaskan pelatihan angkatan pertama diikuti 91 peserta yang terdiri atas 61 peserta Mualim Pelayaran Rakyat dan 30 peserta Juru Motor Pelayaran Rakyat, dari total sekitar 180 pendaftar. Selama lima hari peserta mendapatkan materi mengenai peraturan keselamatan pelayaran, navigasi dasar, pengoperasian kapal, pencegahan pencemaran laut, tugas dan tanggung jawab awak kapal, hingga praktik serta evaluasi kompetensi. (jk)
