06/05/2026

Di Tengah Krisis Global, Sektor Keuangan RI Tetap Solid

 Di Tengah Krisis Global, Sektor Keuangan RI Tetap Solid

Konferensi pers Otoritas Jasa Keuangan terkait Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar secara virtual, Selasa (5/5/2026).

JAKARTA (Dewannews.com) — Stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional dinilai tetap terjaga meskipun perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan Otoritas Jasa Keuangan yang digelar pada 30 April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan bahwa ketahanan sektor jasa keuangan domestik masih solid di tengah dinamika global yang belum stabil.

“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima oleh Redaksi Dewannews.com oada Selasa (05/05/2026).

Baca Juga:  Bangun Infrastruktur Pendukung Kendaraan Listrik, PLN Tambah SPKLU di Wilayah Bali Timur

Dari sisi global, ketegangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi ekonomi dunia. Meski sempat terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada awal April 2026, penutupan Selat Hormuz masih berlanjut akibat blokade yang dipertahankan kedua pihak. Kondisi ini menyebabkan distribusi energi global terganggu dan harga minyak tetap berfluktuasi pada level tinggi.

Laporan World Economic Outlook April 2026 dari International Monetary Fund yang bertajuk “Global Economy in the Shadow of War” juga mencerminkan kondisi tersebut. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026 serta memperingatkan meningkatnya risiko stagflasi akibat fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok.

Sementara itu, perekonomian Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pelemahan dengan pertumbuhan kuartal I-2026 yang diperkirakan menurun. Tekanan inflasi kembali meningkat, terutama dipicu oleh kenaikan harga barang dan energi, meski pasar tenaga kerja masih relatif solid. Dalam kondisi ini, bank sentral AS, Federal Reserve, memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) akhir April 2026.

Baca Juga:  Sektor Jasa Keuangan Tangguh, Ekonomi Nasional Makin Tumbuh!

Di sisi lain, ekonomi Tiongkok masih tumbuh sesuai target sebesar 5,0 persen pada kuartal I-2026, ditopang kinerja ekspor dan sektor manufaktur. Namun, momentum pertumbuhan mulai melambat seiring perlambatan ekspor dan belum kuatnya permintaan domestik.

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga serta peningkatan belanja pemerintah.

Friderica menambahkan, indikator permintaan domestik masih berada dalam kondisi yang cukup baik. “Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada pada zona optimis meskipun mengalami moderasi, sementara penjualan ritel tumbuh 2,4 persen secara tahunan,” jelasnya.

Baca Juga:  Ditengah Tren Pelonggaran kebijakan Moneter, Stabilitas RDK Bulan Septermber 2024 Sektor Jasa Keuangan Terjaga Stabil

Meski demikian, penjualan kendaraan bermotor tercatat mengalami kontraksi secara tahunan. Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan cadangan devisa pada Maret 2026 sebesar USD148,2 miliar serta neraca perdagangan yang mencatatkan surplus sebesar USD1,2 miliar.

OJK menegaskan akan terus mencermati perkembangan global dan domestik serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. (r)