02/11/2026

ITDC Kembangkan Pertanian Organik Berbasis Biodiversity di Gianyar

 ITDC Kembangkan Pertanian Organik Berbasis Biodiversity di Gianyar

ITDC bersama Yayasan Owl Tower Bali dan Kelompok Tani Desa Kedisan menunjukkan burung hantu jenis Tyto Alba usai penyerahan bantuan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Kamis (30/7/2026).

GIANYAR (Dewannews.com) – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui Program Community Development The Nusa Dua menggandeng Yayasan Owl Tower Bali untuk mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Kolaborasi ini memanfaatkan burung hantu Tyto Alba sebagai predator alami untuk mengendalikan hama tikus sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem persawahan.

Dalam program tersebut, ITDC menyalurkan bantuan berupa 10 unit Rumah Burung Hantu (RUBUHA), satu kandang adaptasi berukuran 3 x 2 meter, serta paket pakan awal selama 14 hari. Sementara itu, Yayasan Owl Tower Bali menyerahkan sepasang burung hantu Tyto Alba yang akan dibudidayakan sebagai pengendali hayati di lahan pertanian milik kelompok tani setempat.

Baca Juga:  Mahasiswa Unmas Denpasar Berikan Program Kerja Positif untuk Desa Guwang

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengatakan kolaborasi ini merupakan bentuk nyata komitmen ITDC dalam menciptakan nilai bersama bagi masyarakat dan lingkungan melalui pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, sektor pertanian menjadi bagian penting yang harus didukung seiring dengan pengembangan destinasi pariwisata.

“Kami berharap program ini dapat membantu petani mengendalikan hama secara alami, mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pembangunan daerah,”ujar Agus.

Baca Juga:  Langsung dari Petani! Ini Produk Unggulan di Promo Tani Badung 2025

Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M., menjelaskan burung hantu Tyto Alba merupakan predator alami yang efektif mengurangi populasi tikus sawah tanpa menggunakan bahan kimia. “Metode ini membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendukung pertanian yang lebih sehat dan ramah lingkungan,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa, menyambut baik program tersebut karena dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian organik sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. ITDC menegaskan akan terus memperluas kolaborasi berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) guna mendukung ketahanan pangan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat melalui program pemberdayaan berkelanjutan. (r)