Kredit di Bali-Nusra Tembus Rp231 Triliun, Cek Sektor Paling Dilirik!
Kepala OJK Provinsi Bali,Kristianti Puji Rahayu
Denpasar (Dewannews.com) – Kinerja industri jasa keuangan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara menunjukkan pertumbuhan yang positif dan tetap stabil hingga posisi Februari 2025. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, dalam laporan terbarunya.
Menurut Kristrianti, ketahanan sistem keuangan di Bali dan Nusa Tenggara tetap terjaga berkat permodalan yang kuat, likuiditas memadai, dan profil risiko yang terkendali. “Kami melihat perbankan di wilayah ini tetap resilien dan mampu menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi global,” ujarnya.
Kredit Produktif dan UMKM Jadi Andalan
Hingga Februari 2025, penyaluran kredit mencapai Rp231,1 triliun, tumbuh 5,81 persensecara tahunan. Sekitar 57,64 persen kredit disalurkan ke sektor produktif, seperti modal kerja (33,82 persen) dan investasi (23,82 persen). Kredit investasi bahkan tumbuh tinggi sebesar 28,16 persen yoy, menandakan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.
Sebesar 43,21 persen kredit disalurkan ke UMKM, yang meski mengalami perlambatan (tumbuh 3,32 persen yoy), tetap menunjukkan komitmen bank mendukung ekonomi kerakyatan.
Sektor Perdagangan dan Pariwisata Mendominasi
Penyaluran kredit terbesar berasal dari sektor konsumtif (42,36 persen), disusul oleh perdagangan besar dan eceran (24,49 persen). Sektor akomodasi dan makanan minuman mencatat pertumbuhan signifikan, yakni 11,63 persen yoy, selaras dengan pemulihan sektor pariwisata di daerah ini.
DPK dan LDR Tetap Terkendali
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp275,7 triliun, naik 8,26 persen yoy, ditopang oleh peningkatan tabungan dan deposito. Fungsi intermediasi bank tetap terjaga, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di angka 83,82 persen, meningkat dari bulan sebelumnya.
Permodalan Perbankan Kuat, Risiko Terkendali
Rasio permodalan bank, khususnya BPR di Bali dan Nusa Tenggara, berada dalam level sehat. Cash Ratio BPR di Bali tercatat 14,55 persen, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR)bahkan mencapai 36,03 persen. Dengan kondisi ini, perbankan diyakini mampu menyerap potensi risiko kredit.
Meskipun Non Performing Loan (NPL) gross sedikit naik ke 3,09 persen, angkanya masih jauh di bawah ambang batas 5 persen. OJK tetap mengimbau perbankan untuk memperkuat permodalan dan melakukan stress test secara berkala.
Investor Pasar Modal Terus Bertumbuh
Jumlah investor pasar modal di Bali dan Nusa Tenggara tembus 247.430 SID, naik 25,90 persen yoy. Nilai transaksi saham juga melonjak 46,25 persen menjadi Rp3,5 triliun. Tak hanya saham, pertumbuhan juga terjadi pada investor reksa dana (24,21 persen yoy) dan SBN (17,72 persen yoy).
Fintech, Pembiayaan, dan Modal Ventura Masih Aktif
Perusahaan pembiayaan menyalurkan dana sebesar Rp19 triliun, tumbuh 8,44 persen yoy. Pembiayaan oleh modal ventura naik menjadi Rp312,8 miliar, dan tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) tetap rendah di 1,45 persen untuk perusahaan pembiayaan, serta 6,96 persen untuk modal ventura.
Edukasi Keuangan Sentuh Ribuan Masyarakat
OJK terus menggencarkan literasi dan inklusi keuangan, termasuk kepada komunitas disabilitas. Hingga Maret 2025, lebih dari 67 kegiatan edukasi keuangan telah dilaksanakan di Bali dan Nusa Tenggara, menjangkau lebih dari 5.500 peserta secara langsung dan 109.100 orang melalui media sosial.
Program-program unggulan seperti SiMolek, OJK Ngiring ke Banjar, hingga Training of Trainers (ToT) terus digulirkan. “Kami ingin memastikan semua kalangan mendapatkan akses informasi dan layanan keuangan yang inklusif,” ungkap Kristrianti.
Pelayanan Konsumen dan iDeb Meningkat
Sebanyak 351 pengaduan konsumen diterima OJK selama triwulan pertama 2025, mayoritas dari sektor perbankan dan IKNB. Sebanyak 245 pengaduan telah selesai ditangani.
Selain itu, 7.086 orang telah mengakses layanan penarikan data Informasi Debitur (iDeb) melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), baik secara online maupun langsung. (r)
