02/02/2026

Masturbasi Bikin Mandul? Ini Penjelasan Dokter Kandungan

 Masturbasi Bikin Mandul? Ini Penjelasan Dokter Kandungan

Dr. dr. Kadek Agus Kurniawan, Sp.OG, Subspesialis Obginsos, Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa.

DENPASAR (Dewannews.com) – Berbagai mitos seputar seksualitas masih beredar luas di masyarakat dan kerap menimbulkan kecemasan, terutama di kalangan remaja. Salah satunya adalah anggapan bahwa masturbasi dapat menyebabkan kemandulan. Hal itu ditegaskan tidak benar oleh Dr. dr. Kadek Agus Kurniawan, Sp.OG, Subspesialis Obginsos, Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa.

Menanggapi pertanyaan seorang remaja berusia 18 tahun mengenai risiko masturbasi, Dr. Kurniawan menyampaikan bahwa mitos seperti itu tumbuh akibat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan reproduksi.

Baca Juga:  Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan, OJK Bali Gelar Banjar Bali Quis (BBQ) 2024 di Desa Bengkel

“Masturbasi tidak menyebabkan mandul, tidak membuat impoten, dan tidak merusak kesehatan tubuh. Yang justru berbahaya adalah kecemasan akibat mempercayai mitos tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, hampir seluruh pria dan sebagian besar perempuan pernah melakukan masturbasi, dan praktik ini bahkan digunakan dalam dunia medis sebagai salah satu metode mengatasi masalah seksual, seperti orgasme yang sulit pada perempuan atau ejakulasi dini pada pria.

Baca Juga:  Beri Rekomendasi, Perindo Siap Menangkan Paslon PDIP di Pilkada Bali

Dr. Kurniawan menjelaskan, mitos seksual sering diwariskan turun-temurun sehingga dianggap benar, padahal tidak memiliki dasar ilmiah. Salah satu yang paling keliru, kata dia, adalah mitos mengenai darah perawan.

“Banyak yang percaya bahwa perempuan harus mengeluarkan darah pada hubungan seksual pertama sebagai tanda keperawanan. Padahal, selaput dara bisa sangat elastis dan tidak selalu robek,” jelasnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Geliat Ekonomi UMKM, Gibran Center Bali Hadirkan Pakan Ternak Babi "SI GEMBUL"

Akibat kepercayaan tersebut, perempuan kerap mengalami tekanan psikologis, sementara pasangan bisa salah menilai kondisi yang sebenarnya normal. “Mitos semacam ini dapat merusak kualitas hubungan karena menciptakan tuntutan dan persepsi yang keliru,” tegasnya.

Lebih jauh, Dr. Kurniawan menguraikan bahwa kualitas hubungan seksual bergantung pada tiga aspek utama: dorongan seksual, bangkitan seksual, dan kemampuan mencapai orgasme. Gangguan pada salah satu aspek tersebut dapat menimbulkan masalah, termasuk rasa nyeri saat berhubungan, hambatan orgasme, hingga gangguan fungsi seksual jangka panjang.

Baca Juga:  Percepatan Pengentasan Stunting Melalui Program Kemitraan FKIK Unwar dan Puskesmas Kintamani III

Jenis gangguan orgasme yang umum terjadi antara lain:

1. Disfungsi orgasme primer – tidak pernah mencapai orgasme sejak awal.

2. Disfungsi orgasme sekunder – sebelumnya bisa orgasme, namun kemudian tidak lagi.

3. Disfungsi orgasme situasional – orgasme hanya terjadi pada keadaan atau cara tertentu.

Baca Juga:  PLN Warning! Main Layangan Dekat Listrik Bisa Bahaya Banget — Ini Alasannya!

Penanganan setiap gangguan harus sesuai penyebabnya, mulai dari konseling dengan dokter, terapi hormonal, penggunaan alat bantu, hingga terapi seks.

Sebagai upaya pencegahan, Dr. Kurniawan menekankan pentingnya masyarakat, terutama remaja, memperoleh informasi medis yang benar agar tidak terjebak mitos.

Baca Juga:  Bagas/Ari Antar Badung Sabet Emas Beregu Tenis Porprov Bali

“Menerima informasi yang benar, menjaga kesehatan organ reproduksi, dan membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan adalah cara untuk mencegah gangguan fungsi seksual,” katanya.

Ia menambahkan, edukasi seksualitas yang tepat akan membantu masyarakat memahami tubuh mereka, menghilangkan stigma, serta meningkatkan kualitas hubungan dalam pernikahan di masa depan. (r)