06/11/2026

Unwar Revitalisasi Tambak Garam Kelating Berbasis Pariwisata Berkelanjutan

 Unwar Revitalisasi Tambak Garam Kelating Berbasis Pariwisata Berkelanjutan

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Warmadewa bersama mitra Kelompok Tani Garam Desa Kelating menunjukkan masterplan revitalisasi tambak garam tradisional berbasis pariwisata berkelanjutan di Desa Kelating, Tabanan.

TABANAN (Dewannews.com) – Universitas Warmadewa melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun 2026 mendorong revitalisasi tambak garam tradisional di Desa Kelating, Kabupaten Tabanan. Program yang dilaksanakan tim dosen Program Studi Arsitektur bersama Program Studi Teknik Sipil ini mengusung konsep Revitalisasi Tambak Garam Tradisional Berbasis Pariwisata Berkelanjutan, sebagai upaya menghidupkan kembali kawasan tambak yang mengalami penurunan produktivitas dalam beberapa tahun terakhir akibat abrasi pantai, banjir rob, dan keterbatasan infrastruktur.

Program tersebut diketuai Ir. I Wayan Wirya Sastrawan, S.T., M.Sc., dengan anggota A.A. Gede Raka Gunawarman, S.T., M.T. dan Ir. Putu Didik Sulistiana, S.T., M.T.. Dalam pelaksanaannya, tim Universitas Warmadewa bekerja sama dengan Kelompok Tani Garam Desa Kelating yang dipimpin I Gede Pande Yuda Anggaresa sebagai mitra utama. Kegiatan difokuskan pada penyusunan masterplan revitalisasi kawasan yang mengintegrasikan fungsi produksi garam tradisional, edukasi, pelatihan masyarakat, serta wisata berbasis pesisir dalam satu sistem kawasan yang berkelanjutan.

Baca Juga:  PKM Unwar Bantu UMKM Kerajinan Kayu Tingkatkan Kemasan dan Pembukuan

Ketua tim PkM, Ir. I Wayan Wirya Sastrawan, S.T., M.Sc., mengatakan revitalisasi tidak hanya diarahkan pada pembenahan fisik kawasan, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi tambak garam secara berkelanjutan. “Tambak garam bukan hanya ruang produksi, tetapi juga memiliki nilai budaya, edukasi, dan ekonomi yang besar. Melalui penyusunan masterplan terpadu, kami berupaya menghadirkan konsep pengembangan kawasan yang mampu mengintegrasikan fungsi produksi, edukasi, dan pariwisata sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Kelating,”jelasnya.

Dalam prosesnya, tim melakukan survei lapangan, pemetaan kawasan, Focus Group Discussion (FGD), identifikasi kebutuhan masyarakat, hingga penyusunan desain kawasan menggunakan teknologi pemetaan spasial, visualisasi tiga dimensi (3D), dan analisis teknis kawasan pesisir. Hasilnya dituangkan dalam dokumen masterplan yang mencakup zonasi kawasan, sistem sirkulasi, konsep fasilitas produksi, ruang edukasi, jalur wisata, serta rekomendasi implementasi secara bertahap. Pendampingan juga diberikan kepada kelompok petani garam terkait pengelolaan kawasan, pengembangan wisata edukatif, dan strategi pemanfaatan ruang yang adaptif terhadap karakteristik lingkungan pesisir.

Baca Juga:  Bappeda Badung Perkuat Sinergi Lintas Sektor Tangani Stunting

Menurut Wirya Sastrawan, pengalaman Universitas Warmadewa dalam berbagai program pengabdian, mulai dari penataan kawasan wisata budaya, pengembangan desa wisata hingga penyusunan masterplan kawasan agrowisata berkelanjutan, menjadi modal dalam merancang konsep revitalisasi tambak garam Kelating. Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Garam Desa Kelating, I Gede Pande Yuda Anggaresa, mengapresiasi pendampingan tersebut. “Kami berharap hasil kerja sama ini dapat menjadi pedoman dalam mengembangkan kembali kawasan tambak garam Desa Kelating sehingga tidak hanya meningkatkan produksi garam tradisional, tetapi juga menjadi destinasi edukasi dan wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari luaran PkM, tim Universitas Warmadewa juga menyiapkan publikasi ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), video dokumentasi kegiatan, serta publikasi di media massa. Melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, revitalisasi tambak garam Kelating diharapkan dapat menjadi model pengembangan kawasan pesisir berbasis potensi lokal yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui wisata edukasi garam dan dapat direplikasi di kawasan penghasil garam lainnya di Bali. (r)