23/02/2024
23/02/2024

WN Italia Terdakwa Kasus Pencurian dengan Kekerasan Terancam Hukuman Berat

 WN Italia Terdakwa Kasus Pencurian dengan Kekerasan Terancam Hukuman Berat

Dewannews.com-Denpasar.Setelah majelis hakim menolak eksepsi atau keberatan terdawa kasus pencurian dengan kekerasa Nicola Di Santo (34) atas dakwaa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Yumi Antari sidang langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi.

Diketahui, dalam perkara ini Nicola tidak sendiri. Dia diduga melakukan aksi pencurian yang disertai dengan kekerasan bersama tiga orang temannya. Tapi dari tiga orang itu, dua diantaranya masih dalam pengejaran alias masuk dalam daftar percarian orang (DPO).

Sementara satu orang lagi yaitu atas nama Gregory Lee Simpson (36) berhasil ditangkap dan disidang secara terpisah. Sedangkan dua pelaku yang masuk DPO yaitu atas nama Mateusz Mariusz Morawa dan Brend Stefan Stade.

Baca Juga:  Anak Kos di Padangsambian Kelod Bersimbah Darah Dibacok Pakai Pedang dan Celurit

Sebagaimana dalam dakwaan jaksa yang dibacakan di muka sidang terungkap, kasus pencurian ini terjadi berawal saat terdakwa Nicola menghubungi saksi Gede Almana. Diketahui antara terdakwa dan saksi ini sama sama diperkerjakan oleh saksi korban Principe Nerini.

“Terdakwa Nicola menghubungi saksi dengan maksud ingin meminta 2 (dua) Bit Coin (mata uang kripto berupa aset digital) dengan alasan bahwa saksi Nicola sudah bekerja selama setahun namun tidak mendapatkan keuntungan dari trading crypto yang dilakukan olehnya,” jelas JPU dalam dakwaannya.

Terdakwa Nicola juga mengatakan kepada saksi Gede Alamana bahwa dia akan mencari seseorang untuk melakukan sesuatu terhadap Principe Nerini sehingga berhasil mengambil ponselnya dan memindahkan aset kriptonya kepadanya.

Baca Juga:  Dirjen Perdagangan Terlibat Mafia Minyak Goreng, Putu Supadma Harap Presiden Jokowi Evaluasi Mendag

Atas hal itu, saksi meminta kepada terdakwa Nicola untuk membicarakan persoalan ini langsung secara baik-baik dengan saksi korban. Rapanya saran saksi tidak digubris oleh terdakwa sehingga terdakwa bersama pelaku lain merencanakan aksi pencurian dengan kekerasan.

Pada Kamis 9 November 2021 malam, terdakwa Nicola bersama palaku lain mengadakan pertemuan di tempat tinggalnya di Apartemen Royal Sagina, Jalan Mahendradata Selatan Nomor 11, Denpasar Barat. Di Apartemen ini terdakwa tinggal bersama pacarnya yakni saksi Mega Septiani.

“Dalam pertemuan itu terdakwa Nicola bersama pelaku lain merencanakan pencurian di tempat korban Principe Nerini di Villa Seminyak Estate & Spa Royal 8, Jalan Nakula Gang Baik-baik, Seminyak, Kuta,” ujar jaksa sebagaiamana tertulis dalam dakwaan.

Baca Juga:  Hynopedia helps female travelers find health care in Maldivs

Usai merencanakan pencurian, terdakwa bersama pelaku lain menuju ke tempat saksi korban dengan berjalan melewati tanah kosong menuju tembok belakang. Sementara korban bersama istrinya yang saat itu sedang tertidur medadak dikejutkan dengan suara kembang api.

Begitu beranjak, saksi melihat ada empat orang di dalam kamar menggunakan sarung hitam penutup kepala. Tanpa banyak bicara, korban bersama istrinya langsung dihajar serta kaki dan tangan diikat dengan kabel tis dan juga dilakban.

Dalam dakwaan juga disebutkan, istri korban, Camilla Guadagnuolo sempat berusaha lari. Tapi gagal dan dia pun mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari para pelaku. Selanjutnya, korban Camilla Guadagnuolo diseret menuju ke kamar Principe Nerini.

Baca Juga:  Nahas, Penyeberang Jalan Tewas Ditabrak Motor

Mata korban Camilla lalu ditutup dengan lakban dan kedua tangannya diikat menggunakan kabel tis serta lakban warna hitam. Kedua korban mengetahui dengan jelas pelakunya. Hal itu karena melihat Gregory Lee Simpson (terdakwa dalam berkas terpisah) yang dikenalnya di salah satu pesta ulang tahun.

Camelia sempat berusaha teriak dan menangis. Namun, Gregory Lee langsung menjambak dan tempelkan pisau pada lehernya. Setelah semua yang dibutuhkan berhasil didapatkan, para pelaku pun pergi sambil mengancam korban yang tersungkur di lantai dalam posisi terikat.

Menariknya, pelaku melemparkan pisau ke kamar mandi dan menyuruh korban yang dalam keadaan terikat dan mata tertutup untuk mengambil sendiri pisau jika ingin terbebas. Pelaku juga mengancam agar korban tidak lapor polisi. Jika berani melapor, mereka berjanji akan membunuhnya.

Baca Juga:  Ramadhan Berbagi, Agung Rai Wirajaya Salurkan 546 Zak Beras Mbak Puan Maharani di Enam Titik

Dengan usaha keras, korban akhirnya berhasil terlepaskan ikatan dan memita tolong kepada petugas jaga villa yang sebelumnya juga mendegar teriakan korban untuk menyelamatkannya dan melaporkan kejadian itu ke Polisi.

Sementar terdakwa bersama pelaku lain berhasil melakukan pemindahan aset dari kode yang diberikan korban karena ancaman. Mereka berhasil menggasak apa yang mereka mau sehingga korban mengalami kerugian hingga Rp 900.000.000.

Sedangkan korban Principe Nerini akibat kejadian itu selain luka lecet dan memar di sekujur tubuh juga mengalami patah tulang dasar penyangga bola mata akibat kekerasan tumpul.

Baca Juga:  Niat Ketemu Pacar di Bali, Bule Inggris Ini Malah Jadi Terdakwa Kasus Narkotika

Ini sebagaimana disimpulkan dalam Visum Et Repertum RSUP Sanglah Nomor : YR.02.03/XIV.4.4.7/370/2021 yang ditandatangani tanggal 11 November 2021 oleh pembuat yaitu dr. Henky, Sp.F.,M.Bioethics., SH.

Tak hanya itu, korban juga mengalami kehilangan salah satu panca indra atau mendapat cacat berat. Ini sebagaumana hasil Pemeriksaan Tajam Penglihatan sebagaimana Visum Et Repertum RSUP Sanglah Nomor : YR.02.03/XIV.4.4.7/370/2021 yang ditandatangani tanggal 11 November 2021 oleh dr. Henky, Sp.F.,M.Bioethics., SH.

Sementara terdakwa Nicola Di Santo sebagaimana dalam dakwaan dijerat dengan Pasal 365 ayat (4) KUHP, Pasal 365 ayat (4) KUHP Jo Pasal 56 ke-2 KUHP, Pasal 365 ayat (4) ke-1, ke-2, ke-KUHP dan yang terkhir Pasal 365 ayat (4) ke-1, ke-2, ke-KUHP Jo Pasal 56 ke-2 KUHP. (sar)

error: Content is protected !!