03/11/2026

Bali Interfood Expo 2026 Jadi Ajang Panggung Seleksi Gelato World Cup

 Bali Interfood Expo 2026 Jadi Ajang Panggung Seleksi Gelato World Cup

Dewannews.com-DENPASAR. Pameran internasional industri kuliner bertajuk “Bali Interfood Expo 2026” akan digelar di Bali pada 2–4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali. Pameran yang diselenggarakan untuk ketujuh kalinya di Bali, kali ini memberi daya tarik tersendiri. Pasalnya, event itu sekaligus menandai Bali sebagai tuan rumah seleksi “Gelato World Cup”.

Hal itu dikemukakan CEO Krista Exhibitions, penyelenggara Expo, Daud Salim dalam konferensi pers di Nexx Cafe, Denpasar, Senin (31/8/2026). Konferensi pers dihadiri Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, dan secara daring bergabung Adhi S.Lukman, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI).

“Bali Interfood Expo 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, chef profesional, industri hospitality, serta para pemangku kepentingan lainnya,” kata Daud Salim.

Pameran internasional yang ketujuh kalinya di Bali ini, menurutnya, berfokus pada industri makanan & minuman (food & beverage), bahan kue, peralatan HORECA (hotel, restaurant,cafe), serta teknologi dan layanan pendukungnya.

Daya tarik utama Bali Interfood 2026 adalah digelarnya Indonesian Selection Gelato World Cup, yang menjadi bagian penting dari rangkaian seleksi menuju kompetisi gelato dunia.

Daud menjelaskan, Indonesia kini dipercaya menjadi salah satu pusat seleksi untuk kompetisi gelato tingkat internasional. Jika kompetisi hot cooking untuk menuju ajang dunia sebelumnya banyak melalui Singapura, maka untuk kategori gelato, Indonesia justru mengambil peran strategis sebagai lokasi seleksi.

“Peserta dari berbagai negara Asia dan kawasan lainnya akan mengikuti proses seleksi di Indonesia sebelum melanjutkan perjuangan menuju kompetisi dunia di Italia. Singapura harus ke Indonesia, China harus ke Indonesia, Taiwan ke Indonesia, Hongkong, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, semuanya harus ke Indonesia untuk diperlombakan menuju dunia,” jelasnya.

Baca Juga:  Perkuat Keselamatan Listrik, PLN UP2D Bali Edukasi Warga Dauh Puri Kangin

Kompetisi seleksi gelato akan berlangsung selama tiga hari, 2–4 September 2026 di BNDCC, dengan kategori individual. Pemenang dari seleksi Indonesia di Bali selanjutnya akan bertanding di ajang berikutnya di kawasan Banten pada Krista Interfood 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 4–7 November 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.

Kompetisi tersebut akan mempertemukan peserta dari sekitar 10 negara. Pemenang akhirnya akan memperoleh kesempatan berlaga pada Gelato World Cup di Rimini, Italia, pada 23–27 Januari 2027.

Kepercayaan kepada Indonesia sebagai salah satu pusat seleksi Asia, kata Daud, merupakan capaian penting bagi industri kuliner nasional. Menariknya lagi, kompetisi tersebut tidak sekadar menguji kemampuan teknis membuat gelato. Peserta juga dituntut mengangkat bahan-bahan lokal dari negara masing-masing. Bahan seperti nangka, pepaya, durian dan berbagai komoditas lokal lainnya dapat diolah menjadi kreasi gelato yang memiliki identitas budaya.

“Chef peserta juga harus mampu menjelaskan asal-usul bahan, alasan pemilihan bahan, proses pengolahan hingga konsep di balik produk yang dibuat.Chef-nya mesti cerita kenapa memilih bahan ini, asal-usulnya bagaimana dan diolahnya bagaimana. Sambil membuat, dia juga harus bercerita. Itu semua akan dinilai,” tandas Daud.

Terkait Bali Interfood Expo 2026, Daud memaparkan, Expo tahun ini menjadi penyelenggaraan ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2014. Pada awalnya Bali Interfood digelar dua tahunan. Namun, mulai 2025 penyelenggaraan kemudian dilakukan setiap tahun dan pola tersebut akan dilanjutkan pada 2027.

Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan Bali Interfood menunjukkan besarnya potensi Bali sebagai destinasi pariwisata sekaligus pusat pertumbuhan industri makanan, minuman dan hospitality.

Bali, kata Daud, memiliki daya tarik tersendiri karena menjadi destinasi yang dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kondisi tersebut membuat pameran industri makanan dan minuman memiliki ekosistem yang sangat kuat untuk berkembang.

Baca Juga:  Diikuti 110 Peserta dari 8 Negara dan 35 UMKM, Bali Interfood 2026 Target 15.000 Pengunjung

Bali Interfood Expo 2026 akan diikuti peserta yang relatif sama dengan tahun sebelumnya, yakni sekitar 110–115 peserta, termasuk sekitar 35 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dari Jawa Timur serta sejumlah wilayah lain di Indonesia. “Kami, Krista Exhibitions, juga membuka peluang lebih besar bagi IKM Bali untuk tampil pada penyelenggaraan tahun depan,” tandasnya.

Sementara, Ketua BPD PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, menyambut positif konsistensi penyelenggaraan Bali Interfood Expo 2026. “Kehadiran Bali Interfood untuk ketujuh kalinya bukan hanya menjadi ajang transaksi produk makanan dan minuman, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat jaringan bisnis dan meningkatkan inovasi pelaku industri,” ujar mantan Wakil Gubernur Bali itu.

Pameran Bali Interfood yang ketujuh kalinya hari ini, menurutnya, bukan hanya sebuah pameran produk makanan dan minuman, tetapi sebenarnya merupakan ruang yang sangat strategis untuk memperkuat jaringan bisnis.

Cok Ace – sebutan akrab Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati — menilai, kuliner saat ini telah berkembang jauh melampaui kebutuhan dasar manusia. Kuliner telah menjadi bagian dari pengalaman wisata yang berkaitan erat dengan cita rasa, budaya, identitas daerah dan kearifan lokal. “Oleh karena itu, penguatan industri kuliner memiliki hubungan langsung dengan penguatan industri hospitality dan pariwisata Bali,” tegasnya.

Menurut Cok Ace, prinsip kualitas produk, keberlanjutan serta penguatan budaya lokal menjadi modal penting untuk membangun diferensiasi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. “PHRI Bali berkomitmen untuk terus mendukung keberlangsungan Bali Interfood demi pertumbuhan industri hospitality di Pulau Dewata,” tandasnya.

Respon positif juga datang dari Adhi S.Lukman, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI). Adhi mengapresiasi konsistensi Krista Exhibitions dalam menyelenggarakan Bali Interfood 2026.

Baca Juga:  Kinerja Sektor Jasa Keuangan Bali April 2025 Tumbuh Positif, Kredit dan DPK Meningkat

“Pameran ini menjadi agenda penting karena mampu mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem industri makanan dan minuman, mulai dari inovasi, teknologi, logistik hingga para pelaku usaha dan pemangku kepentingan,” ujarnya.

Adhi menyebutkan, industri makanan dan minuman nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada semester pertama 2026, industri makanan dan minuman tercatat mampu tumbuh sekitar 6,51 persen, atau berada di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun demikian, Adhi mengingatkan bahwa industri tersebut masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari dinamika geopolitik dunia, perubahan iklim, regulasi, hingga berbagai perkembangan global yang dapat mempengaruhi rantai pasok dan daya saing industri.

Terkait hal itu, GAPMMI terus mendorong penguatan kapasitas pelaku industri, kepatuhan terhadap regulasi, inovasi, serta peningkatan daya saing. “Bali Interfood memberikan ruang bagi para pemangku kepentingan untuk saling bertemu, saling mengisi, berbagi pengalaman dan berdiskusi bagaimana kita harus tumbuh bersama-sama di tengah tantangan yang ada saat ini,” pungkas Adhi.(Dps).