02/11/2026

Duta Badung Angkat Nilai Filosofis Busana Adat dalam PKB XLVIII

 Duta Badung Angkat Nilai Filosofis Busana Adat dalam PKB XLVIII

Duta Kabupaten Badung berfoto bersama usai menampilkan empat warisan busana adat sakral dalam Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Bali, Minggu (21/6).

DENPASAR (Dewannews.com) – Duta Kabupaten Badung memukau penonton dalam Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Bali, Minggu (21/6). Tampil pada urutan ketujuh, Badung menghadirkan empat ragam busana adat yang merepresentasikan perjalanan kehidupan masyarakat Bali, mulai dari fungsi pengayoman adat hingga busana utama dalam upacara sakral.

Keempat busana yang ditampilkan yakni Busana Pecalang, Payas Kekembangan, Busana Maligia Lajur, dan Payas Kawya atau Payas Agung Mengwi. Penampilan tersebut menjadi wujud pelestarian warisan budaya yang selaras dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi, yang menekankan upaya menjaga kesucian jiwa dan harmoni kehidupan.

Baca Juga:  Sanggar Titi Bah Tampil Total di PKB 2026, Arja Klasik Badung Tebar Pesan Kehidupan

Tim Parade Busana Duta Kabupaten Badung, I Gusti Ngurah Agung Sasmitra Wiguna, mengatakan seluruh busana yang ditampilkan dipilih karena memiliki nilai filosofis, historis, dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Badung. “Untuk PKB tahun 2026, Kabupaten Badung tetap berpedoman pada tema besar Atma Kerthi. Keempat busana yang ditampilkan merupakan representasi perjalanan kehidupan masyarakat Badung, mulai dari fungsi pengayoman adat, persembahan suci, ritual leluhur, hingga busana tingkat utama dalam upacara sakral,” ujarnya.

Parade diawali dengan Busana Pecalang yang merepresentasikan penjaga keamanan dan kesucian adat serta agama. Selanjutnya, Payas Kekembangan dari Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang, menampilkan keunikan tradisi Ngelampad yang dilakukan daha truna sebagai bentuk persembahan hasil bumi kepada Dewa Sangkara setiap Purnama. “Busana Kekembangan hanya ada di Desa Adat Pangsan. Tradisi ini menjadi warisan yang terus dijaga oleh para daha truna melalui pelaksanaan Ngelampad setiap Purnama,” kata Agung Sasmitra.

Baca Juga:  DJP Bali Blokir Rekening 295 Penunggak Pajak, Tunggakan Capai Rp76,2 Miliar

Nuansa sejarah dihadirkan melalui Busana Maligia Lajur, yang merupakan rekonstruksi busana ritual Pitra Yadnya pada upacara Maligia Lajur Raja Dewata ke-X di Puri Agung Sibang Kaja tahun 1957. Rekonstruksi dilakukan berdasarkan dokumentasi foto lama dengan tetap mempertahankan pakem aslinya. “Kami merekonstruksi kembali busana tersebut berdasarkan foto yang diperoleh, namun tetap mengedepankan pakem, meskipun bahan yang digunakan menyesuaikan perkembangan zaman,” jelasnya.

Kemegahan parade ditutup dengan Payas Kawya atau Payas Agung Mengwi yang dikenal sebagai busana tingkat utama dalam upacara mepandes dan pawiwahan. Melalui empat ragam busana tersebut, Duta Kabupaten Badung menegaskan komitmennya menjaga warisan budaya Bali dengan tetap berpijak pada pakem dan filosofi Tri Angga. Inovasi yang dilakukan tidak hanya mempertahankan bentuk fisik busana adat, tetapi juga merawat nilai dan makna yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. (r)