04/11/2026

Duta Badung Angkat Realitas Warga Adat Bali Lewat “Upahayu Atmeng Tanu”

 Duta Badung Angkat Realitas Warga Adat Bali Lewat “Upahayu Atmeng Tanu”

Penampilan Duta Kabupaten Badung, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Desa Adat Tanjung Benoa, Kuta Selatan, saat membawakan garapan “Upahayu Atmeng Tanu” dalam Wimbakara Taman Penasar serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Ratna Kanda, Taman Werdhi Budaya Art Centre Denpasar, Kamis (18/6/2026).

DENPASAR (Dewannews.com) – Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara Taman Penasar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses menghibur sekaligus mengajak penonton merenungkan realitas kehidupan masyarakat adat Bali. Bertempat di Kalangan Ratna Kanda, Taman Werdhi Budaya Art Centre Denpasar, Kamis (18/6/2026), tokoh Wayan menjadi pusat perhatian melalui dialog penuh humor yang sarat kritik sosial.

Tokoh Wayan yang diperankan Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Desa Adat Tanjung Benoa, Kuta Selatan, berulang kali mengundang tawa penonton. Namun di balik kelucuannya, tokoh tersebut menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari makna menyama braya hingga ketimpangan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat adat ketika kewajiban adat dan kebutuhan hidup harus berjalan beriringan.

Baca Juga:  Sidang Yayasan Dhyana Pura Kisruh, Tergugat Tak Bisa Hadirkan Ahli

Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, I Wayan Citra, mengatakan karakter Wayan sengaja dihadirkan sebagai representasi kondisi nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, tokoh tersebut menggambarkan seseorang yang mudah marah karena hanya melihat persoalan dari satu sisi tanpa memahami keadaan secara menyeluruh.

“Wayan ini sosok yang antagonis. Ketika dia tidak melihat istrinya di rumah, dia marah. Ini riil kehidupan masyarakat, pola pikir masyarakat. Hanya bisa melihat dari satu sisi, tidak keseluruhan, lalu marah-marah,” ujar I Wayan Citra usai pementasan.

Baca Juga:  Sekda Alit Wiradana Lantik 5 Pejabat Fungsional Pemkot Denpasar

Dalam alur cerita, Wayan akhirnya mengalami perubahan sikap setelah mendapat berbagai tuntunan melalui sastra Bali yang dikemas dalam sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka, hingga palawakya. Salah satu pesan yang diangkat berasal dari Geguritan Dharma Sunyata karya I Made Menaka yang mengajarkan etika kehidupan, filosofi Hindu, serta pentingnya menjaga keseimbangan dalam bermasyarakat.

“Karena tutur-tutur yang disampaikan Jero Kelian dan masyarakat akhirnya Wayan sadar. Tutur itu membuat Wayan memahami makna menyama braya. Yadnya dan ekonomi harus seimbang. Kalau hanya mencari uang terus lupa meyadnya tidak baik, sebaliknya jika hanya meyadnya tanpa memperhatikan keluarga juga akan menimbulkan masalah,” jelasnya.

Baca Juga:  Industri Jasa Keuangan Bali-Nusra Stabil, Kredit dan DPK Tumbuh Positif hingga Mei 2025

Pada PKB XLVIII 2026, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru membawakan garapan berjudul “Upahayu Atmeng Tanu”, karya I Nyoman Wija Widastra. Judul tersebut bermakna memelihara Sang Hyang Atma yang berada dalam tubuh manusia atau angga sarira. I Wayan Citra menegaskan seluruh penyaji dan penabuh berasal dari wilayah Kuta Selatan. Meski sempat menghadapi kendala dalam mencari peserta sesuai batas usia lomba, pihaknya tetap optimistis menampilkan karya terbaik sebagai Duta Kabupaten Badung. (r)