Duta Badung Tampil Memesona Lewat Garapan Kolosal Sanggama Rohani
Seorang penari memerankan tokoh Patih Kebo Iwa dalam garapan kolosal “Sanggama Rohani” yang dibawakan Sanggar Seni Tugek Carangsari, Duta Kabupaten Badung, pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Bali, Denpasar, Jumat (3/7) malam.
DENPASAR (Dewannews.con) – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, bergemuruh saat Sanggar Seni Tugek Carangsari, Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Duta Kabupaten Badung, menampilkan garapan kolosal bertajuk “Sanggama Rohani” dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Jumat (3/7) malam. Pertunjukan yang mengangkat nilai spiritual dan kekayaan tradisi Bali itu sukses memukau ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan.
Garapan tersebut mengisahkan perjalanan Patih Kebo Iwa saat mendapat tugas dari Raja Bumi Banten untuk merestorasi Pura Sada di Desa Kapal. Dalam perjalanan bersama empat pengabih, Kebo Iwa menemukan masyarakat Desa Kapal yang tengah dilanda wabah penyakit. Melalui meditasi di Pura Sada, ia memperoleh pawisik agar masyarakat menggelar ritual penyucian roh yang kemudian diwujudkan dalam Tradisi Tipat Bantal, tradisi sakral yang hingga kini masih dilaksanakan setiap Sasih Purnama Kapat.
Pertunjukan dikemas secara megah dengan memadukan tari, dramatari, tabuh, dan tata artistik yang kuat sehingga menghadirkan nuansa sakral sekaligus spektakuler. Selain menjadi tontonan yang memikat, garapan ini juga memperkenalkan warisan budaya Kabupaten Badung kepada masyarakat melalui panggung seni terbesar di Bali.
Koreografer sekaligus penata kostum, Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, mengatakan penampilan tahun ini menjadi momen istimewa karena mengangkat Tradisi Tipat Bantal yang masih lestari di Desa Adat Kapal. Sebanyak sekitar 150 seniman turut terlibat dalam menyukseskan pementasan kolosal tersebut.
“Hari ini sangat spesial karena kami menampilkan Tradisi Siat Tipat Bantal yang ada di Desa Adat Kapal. Tradisi inilah yang kami angkat pada kesempatan kali ini bersama sekitar 150 peserta,” ujar Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja.
Ia menambahkan, Tradisi Tipat Bantal memiliki makna filosofis sebagai simbol pertemuan purusa dan pradana yang melahirkan kehidupan baru. Melalui garapan “Sanggama Rohani”, pihaknya berharap masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga memahami nilai spiritual dan pentingnya melestarikan tradisi leluhur sebagai identitas budaya Bali. (r)
