Warmadewa Dorong Kebijakan Ketahanan Pangan Berbasis Gender di NTT
Universitas Warmadewa bersama Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Focus Group Discussion (FGD) II mengenai kebijakan ketahanan pangan dan gizi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Kota Kupang, Rabu (21/10/2026).
KUPANG (Dewannews.com) – Universitas Warmadewa bersama Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kota Kupang, Rabu, 21 Oktober 2026.
FGD ini menghadirkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai narasumber.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian Strengthening Food Security and Nutritional Resilience through Gender-Responsive Simulation Modeling and Policy Innovation in Eastern Indonesia yang didanai International Science Partnerships Fund (ISPF). FGD yang dilaksanakan berfokus pada kebijakan ketahanan pangan dan penurunan stunting dirancang, diterjemahkan, dan dijalankan di NTT.
Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian Undana, Dr. Tomycho Olviana, SP., MMA. Ia menilai pertemuan antara peneliti dan pemerintah daerah penting agar hasil riset tidak berhenti di kampus, tetapi menjadi rekomendasi kebijakan dan program ketahanan pangan dan penguatan gizi dalam mengatasi gizi buruk.
“NTT menghadapi tantangan ganda: musim yang makin sulit diprediksi dan angka stunting yang masih tinggi. Kampus tidak bisa menjawabnya sendiri. Forum seperti ini mempertemukan data lapangan dengan pengalaman dinas, sehingga rekomendasi yang lahir benar-benar bisa dijalankan di daerah,” ujar Tomycho.
Dalam satu sesi diskusi, ketiga instansi memaparkan kebijakan serta program yang dijalankan terkait pangan, gizi, dan stunting.
Sebelum diskusi, tim peneliti menyampaikan temuan awal dari wawancara informan kunci, survei terhadap 418 perempuan petani di delapan desa di Timor, Flores, dan Sumba. “Perempuan di NTT sudah berada di garis depan: menggarap lahan, menyiapkan makanan keluarga, dan memastikan layanan gizi kepada anak. Namun dalam kebijakan, mereka lebih sering ditempatkan sebagai sasaran daripada penentu,” kata ketua peneliti, Dr. Agung Parameswara dari Universitas Warmadewa. NTT memiliki modal kebijakan yang maju dalam gender responsif. Kami ingin belajar dari Bappeda, Dinas Pertanian, dan Dinas Kesehatan bagaimana mandat itu bisa turun menjadi program nyata, misalnya dukungan bagi kelompok perempuan” ujarnya.
Frits Isak Lake S.Sos, koordinator substansi pengendalian dan evaluasi pembangunan Bappeda NTT menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan tim peneliti Warmadewa sangat penting untuk dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan di NTT tahun 2027. Joaz Bily umby Wanda, SP, kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, menjelaskan program ketahanan pangan, penganekaragaman pangan lokal, dan pembinaan kelompok wanita tani dalam ketahanan pangan di NTT. Sementara itu, Damiana V Johri SKM.,M.kes Kabid kesehatan masyarakat Dinas Kesehatan menyampaikan target prevelensi stunting diharapkan dapat turun setiap tahunnya. Perempuan menjadi aktor yang penting dalam penurunan stunting dan menjadi isu strategis dalam Renstra 2025-2029.
Hasil FGD akan digunakan tim untuk melengkapi data penelitian, menyusun model simulasi ketahanan pangan dan gizi yang responsif gender, serta menulis artikel jurnal dan ringkasan kebijakan bagi pemerintah daerah. Penelitian ini melibatkan Universitas Warmadewa, Universitas Nusa Cendana, dan University of Sheffield, dengan dukungan Kemdiktisaintek dan British Council.
